Your Cart

Your shopping cart is currently empty

Shop Now

Perhatikan, Ini Jenis-Jenis Gangguan Bicara yang Dialami Si Kecil!

articles/custom_resized_d08c3612-8cd4-4433-ac72-6dedb59555dc.jpg

Setiap anak mengalami perkembangan yang berbeda-beda. Mulai dari motorik, sensorik, fisik, sosial dan emosi hingga kemampuan bicara. Tentunya tumbuh dengan optimal menjadi dambaan setiap orangtua, termasuk menginginkan Si Kecil dapat berbicara dengan lancar dan jelas.

Yups, memang benar bahwa kemampuan berbahasa Si Kecil menjadi salah satu indikator penting dalam tumbuh kembang anak. Pada umumnya, periode kritis perkembangan kemampuan anak untuk berbahasa adalah pada usia 9-25 bulan, lalu di usia 2-4 tahun, anak akan menunjukkan peningkatan yang cepat dalam hal jumlah dan kompleksitas pada perkembangan berbicara, kekayaan perbendaharaan kata, serta kontrol neuromotorik mereka.

Akan tetapi, tak semua anak dapat menunjukkan milestone yang sesuai dalam rentang waktu tersebut. Beberapa anak tidak dapat mencapai target yang sesuai dengan perkembangan pada usia semestinya. Ini kemungkinan Si Kecil mengalami gangguan bicara atau yang dikenal sebagai speech delay.

1. Disartria

Ini adalah kelainan yang terjadi pada sistem syaraf yang menyebabkan lemahnya otor pada wajah, bibir, lidah, tenggorokan dan dada. Inilah yang membuat Si Kecil sulit bicara. Tanda-tandanya Si Kecil mengalami disartia yaitusuaranya serak atau bindeng, tempo bicara yang terlalu cepat maupun terlalu lambat, bicara cadel, nada bicara yang monoton.

2. Apraksia

Hampir serupa dengan disartria, apraksia adalah terjadi karena gangguan pada syaraf pada otak Si Kecil.yang membuat anak sulit mengoordinasikan otot yang digunakannya untuk berbicara. Padahal sebenarnya Si Kecil mengetahui apa yang hendak dikatakan, tetapi kesulitan untuk berbicara.

Apraksia pada anak biasanya disebabkan oleh gangguan genetik dan metabolisme. Selain itu, kondisi ini juga dapat dialami jika ibu mengonsumsi alkohol atau obat terlarang saat hamil. Gangguan bicara ini biasanya baru bisa terdeteksi pada anak di bawah usia tiga tahun, yaitu usia antara 18-24 bulan.

 Tanda-tanda yang terlihat pada anak dengan gangguan ini, yaitu tak selalu mengucapkan kata-kata dengan cara yang sama setiap waktu, cenderung memberi penekanan pada suku kata ataupun kata yang salah, mengubah suara, dan mengatakan kata-kata yang lebih pendek dengan jelas daripada kata-kata yang panjang.

3. Gagap 

Gagap ditandai dengan adanya pengulangan kata pertama atau adanya penahanan bunyi tertentu saat si kecil akan mengucapkan kata. Gagap membuat si kecil tidak lancar saat bicara dan bahkan dapat membuatnya mengalami masalah bicara untuk waktu yang cukup panjang serta mengalami kesulitan dalam mengucapkan kata-kata.

4. Cluttering                  

Cluttering serupa dengan gagap. Akan tetapi bedanya adalah si kecil yang mengalami cluttering akan mengalami ketidakteraturan saat mengucapkan kata-kata. Bahkan penderita cluttering seringkali tak menyadari jika ia mengalami ketidakteraturaan saat berbicara.

5. Gangguan Suara Bicara

Saat Si Kecil belajar bicara, adalah normal jika ia mengucapkan beberapa kata dengan cara yang salah, misalnya T menjadi D. Meskipun begitu, umumnya pada usia 4 tahun, sebagian besar anak dapat mengucapkan kata-kata dengan cukup baik.

Sementara, anak yang tak mampu melakukannya bisa jadi mengalami gangguan suara bicara yang merujuk pada gangguan artikulasi dan gangguan fonologis. Ia bisa saja mengganti suatu suara dengan yang lain atau menambahkan suara.

Cara mudah mengenalinya, perhatikan ketika Si Kecil masih belajar bicara, mungkin ia mengatakan “susu” menjadi “cucu”. Namun, jika ia terus melakukan kesalahan yang sama meskipun usianya semakin bertambah, Moms perlu waspada. Bisa jadi ini merupakan tanda gangguan suara bicara.

(Image by Freepik.com)